Adhiyaksa Mengancam Boikot Malaysia

Diposting oleh Cheria Holiday on Rabu, 29 Agustus 2007

Buntut pemukulan terhadap wasit karate asal Indonesia oleh empat polisi Malaysia dan sikap pemerintah Malaysia yang tidak mau meminta maaf, memicu reaksi keras di berbagai daerah. Bahkan, Menegpora Adhyaksa Dault mengancam memboikot semua event olah raga yang digelar di Malaysia.

"Saya akan tetap menuntut agar pemerintah Malaysia menyatakan permintaan maafnya kepada Donald dan masyarakat Indonesia. Saya sudah dua kali menelefon Dubes Malaysia agar mereka segera meminta maaf," kata Adhyaksa dengan nada gusar, di kantor Menegpora, Jakarta, Rabu (29/8).

Adhyaksa merasa heran dengan sikap pemerintah Malaysia yang tidak mau meminta maaf, padahal Indonesia dan Malaysia merupakan negara serumpun. "Katanya kita negara serumpun, masa untuk menyatakan minta maaf saja mereka tidak mau. Apa susahnya mereka tinggal meminta maaf. Bapak Presiden saja meminta maaf ketika asap dari kebakaran hutan kita sampai ke Malaysia. Ini kasus kekerasan dan penganiayaan yang dialami warga Indonesia, tetapi mereka tidak mau minta maaf," katanya.

Kekesalan terhadap sikap Malaysia itu berbuah aksi protes di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Di Jakarta, ribuan warga termasuk para karateka melakukan aksi demo ke Kedutaan Besar Malaysia yang terletak di Jln. H.R. Rasuna Said (Kuningan) Jaksel. Ketua Karatedo Indonesia Yorris T.H. Raweyai mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menerima perlakuan aparat kepolisian Malaysia terhadap Donald Kolopita.

Para demonstran yang terdiri atas 19 klub karate itu pun meminta agar Indonesia tidak mengirimkan utusan ke perayaan kemerdekaan Malaysia, 31 Agustus 2007 mendatang. Dalam aksinya, mereka yang memakai pakaian putih-putih mamamerkan jurus-jurus karate.

Pengamat politik Hermawan Sulistyo yang juga seorang karateka, mengajak para karateka untuk berlatih karate di depan Kedubes Malaysia setiap minggu sampai tuntutan mereka dipenuhi. Bahkan dia mengancam akan melakukan pembalasan kekerasan terhadap warga Malaysia di Indonesia.

"Polisi Malaysia bisa seenaknya melakukan penganiayaan terhadap warga negara Indonesia. Kami juga bisa melakukan hal yang sama tehadap warga negara Malaysia di Indonesia," ujarnya tegas.

Di Surabaya, empat atlet bulu tangkis Malaysia dan satu ofisial yang akan mengikuti kejuaraan di kota itu terpaksa dipulangkan ke negaranya. Keempat atlet itu adalah Pie Wee Chung, Teo Yu Kheng, Ho Kek Mong, dan Chew Koe Seang.

Panitia pelaksana Turnamen Gudang Garam Jawa Pos Indonesia Challenge (GGJPIC), Irwan Setiadi mengakui, pemulangan itu terpaksa dilakukan dengan alasan keamanan. "Cuma mereka tidak diterbangkan langsung ke Malaysia, tapi diterbangkan dulu ke Jakarta," katanya.

Protes terhadap berbagai kasus kekerasan terhadap WNI di Malaysia juga terjadi di Medan. Satu bendera Malaysia sempat dibakar demonstran. Protes tersebut dilancarkan seratusan aktivis kepemudaan di Konjen Malaysia.

Para demonstran menuntut pemerintah Malaysia meminta maaf secara terbuka kepada Indonesia atas kasus-kasus kekerasan terhadap WNI, termasuk tindakan brutal polisi Malaysia terhadap wasit karate Indonesia Donald Luther Kolopita, pada 24 Agustus lalu.

Jangan anarkis

Kapolri Jenderal Pol. Sutanto berharap masyarakat Indonesia tidak melakukan aksi anarkis atau kekerasan sebagai balasan kepada Malaysia. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang ramah sehingga jangan menunjukkan sikap-sikap yang kasar. Jika aksi kekerasan dilakukan sebagai balasan kepada Malaysia, itu justru tidak menguntungkan kedua belah pihak.

"Kami minta bantuan dari media. Kita negara hukum, jadi tolong untuk tidak berlaku anarkis. Kami berharap ada bantuan dari media-media juga," ungkap Kapolri usai menghadiri pelantikan Mendagri Mardiyanto di Istana Negara.

Sementara itu, Ketua DPR RI Agung Laksono menyesalkan pihak Malaysia yang tidak mau meminta maaf atas penganiayaan terhadap wasit karate asal Indonesia Donald Luther Kolopita. Untuk itu, pemerintah diharapkan melakukan evaluasi terhadap sikap Malaysia itu.

"Bagi saya, tidak boleh berhenti di sini, dan jangan dilupakan begitu saja. Saya sesalkan sikap Menlu Malaysia yang tidak meminta maaf," ungkap Agung di sela-sela peringatan ulang tahun (ultah) DPR RI di gedung DPR/MPR RI Jakarta, kemarin.

Agung mengharapkan bisa tercipta suasana yang lebih baik jika ada permintaan maaf dari pimpinan negara Malaysia. "Baik dari perdana menteri maupun tokoh-tokoh lainnya yang sepadan," ucap Agung.

Sementara politikus Golkar Yuddy Chrisnandi minta agar pemerintah Indonesia tegas dalam menyikapi persoalan dengan Malaysia. Pasalnya, selama ini Indonesia selalu berada dalam pihak yang dilecehkan.

Yuddy menyarankan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil inisiatif melakukan pertemuan antarkepala negara, dengan Malaysia. Tujuannya, agar ada perhatian khusus mengenai pembicaraan tentang masa depan hubungan Indonesia dan Malaysia itu.

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring di Bandung, menilai bahwa kronologi pemukulan wasit asal Indonesia di Malaysia tidak pernah diketahui publik secara jelas. "Dari kejadian ini, sudah saatnya kedua negara berbicara dalam satu meja untuk mendapat kejelasan soal kejadian tersebut," katanya, di sela-sela Rapimnas PKS, kemarin.

Selama ini, menurut dia, masyarakat Indonesia tidak pernah tahu alasan pemukulan yang dilakukan oknum polisi Malaysia.

Menegpora Lontarkan Ancaman Boikot
Sikap Malaysia Picu Reaksi Keras

JAKARTA, (PR).-

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Cheria Bandung

Cheria  Bandung
Graha Internasional ( Bank of Tokyo ) Lt3 Jl. Asia Afrika No.129, Bandung 40112

Info Haji Bandung